CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Assalamu'alaikum

Welcome Myspace Comments

Music is my life ...

Hello! Myspace Comments

Saturday, March 31, 2012

Chairil Anwar sang Penyair



“Bom atom pertama meledak di kota Hiroshima. Langit berselaput awan cendawan berbisa. Ketika memburai awan ini, bumi laksana ditimpa hujan salju yang ganas. Gedung-gedung beton runtuh. Aspal-aspal jalan terbakar menyala. Bumi retak-retak berdebu., disegala penjuru. Dan beribu tubuh manusia meleleh, tewas atau terluka. Seekor kuda paling binal, berbulu putih dan berambut tergerai, berlari dipusat kota, Jakarta! Tidak peduli pada yang ada, sekelilingnya, juga tidak pada manusia. Dia meringkik alangkah dahsyatnya, menapak dan menyepak alangkah merdeka. Dunia ini, seolah cuma menjadi miliknya! Dan sekaligus seolah dia berbicara:

kalau sampai waktuku
kumau tak seorang kan merayu
tidak juga kau
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

Gaung suara ini seolah membelah langit, membelah bumi.”

Adegan-adegan film yang tergambar dalam scenario ini tak sempat diwujudkan oleh sang penulis sekaligus sutradara, Sjuman Djaya. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair besar yang dikaguminya, Chairil Anwar, bagi para penikmat sinema tak pernah jadi nyata. Namun, tak dapat disangkal bahwa scenario ini merupakan salah satu karya terpenting Syuman Djaya yang menempatkannya di jajaran para seniman besar di Indonesia.


Bacaan diatas merupakan bacaan yang ada di cover belakang pada buku AKU yang ditulis oleh salah seorang sutradara besar Indonesia yaitu Sjuman Djaya. Dari bacaan tersebut, nampak sekali bahwa sang sutradara sangat ingin untuk mewujudkan perjalanan hidup Chairil Anwar menjadi sebuah film. Namun tak dapat diwujudkan karena berbagai kendala seperti untuk menghidupkan kembali keadaan Jakarta di masa tahun 1940-1950. Banyak yang berubah. Trem kota sudah tidak ada. Wajah pelabuhan sudah berubah. Begitu juga wajah seluruh kota pada umumnya.

Pada buku ini, sang penyair lah yang menjadi pokok pembicaraan. Untuk itu, sebelum saya bercerita lebih jauh, saya akan memberitahu terlebih dahulu biografi dari sang penyair besar pada zaman perang tersebut.



Chairil Anwar, lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan dan meninggal pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta. Berpindidikan MULO (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur “Gelanggang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949). Kumpulan sajaknya yaitu ada Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin + Asrul Sani, 1950). Sajak-sajaknya yang lain, sajak-sajak terjemahannya, serta sejumlah prosa yang dihimpun H.B Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Selaain menulis sajak, Chairil juga menerjemahkan. Diantara terjemahannya : Pulanglah Dia si Anak Hilang (karya Andre Gide, 1948) dan Kena Gempur (karya John Steinbeck, 1951).

Didalam buku ini (AKU), diceritakan kembali bagaimana kehidupan Chairil Anwar pada zaman perang, dimana namanya mulai dikenal orang banyak. Ia lahir sebagai salah satu penyair yang besar dan yang terkenal pada zamannya. Bahkan sampai dengan saat ini juga. Berkat semangat juang yang dituliskannya lewat sajak-sajaknya. Yang paling terkenal, salah satunya adalah AKU. Berikut bunyi sajaknya :


“Aku !
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi. “

 
Chairil, lelaki kurus berambut panjang, bermata cekung tapi tajam dan bermata merah basah. Ia hidup didalam dunia keluyurannya. Ia tidak suka menetap dirumah. Bahkan ibunya suka ia tinggalkan dirumah sendirian. Ia pergi kemanapun sesuka hatinya. Seperti tidak ada yang akan menahannya dan jika pun ada, mereka tidak akan sanggup. Chairil pernah mengambil atau mencuri barang-barang orang yang ada disekitarnya. Ia menjual barang itu untuk kebutuhannya. Salah satunya seperti ia pernah mengajak salah seorang wanita yang bernama Dien untuk bercengkrama disalah satu restoran. Pada saat itu ia mengambil jas salah seorang temannya yang bernama Basuki dan ia jual jas itu untuk bekal dalam mengajak wanita yang bernama Dien itu. Dien itu juga salah seorang teman dari Chairil dan Basuki. Pada saat basuki merasa jasnya hilang dan ia mencari tahu kemana jasnya, ada Sudjojono yang menduga bahwa Chairil si lelaki Jadel yang mengambilnya. Dan ternyata memang benar. Dengan bukti, Basuki menyusul Chairil dan Dien yang sedang bercengkrama disalah satu restoran itu, dan ia malah ikutan makan dan Chairil pun menambah order semaunya. Mereka pun mengobrol. Dan alih-alih Basuki menanyakan jasnya kepada Chairil dengan alasan bahwa ia memerlukan baju hangat untuk menghadiri acara pembukaan pameran. Dengan tenang dan sama sekali tanpa rasa berdosa, Chairil menjawab, “Sudahlah, tak usah kau risaukan jas buruk itu. Ke pameran toh tidak musti pakai jas, apalagi jas itu sudah berada dalam perutmu! Ya, perut kita semua!”. Baik Dien, apalagi Basuki Cuma bisa terbelalak sambil berkata, “Hah…?!”.

Orang disekitarnya sudah mengenalnya dengan kehidupannya yang suka keluyuran dan menurut saya sedikit selenge’an tapi tetap parlente yang terbukti dengan gaya nya. Orang sibuk berperang tetapi dia tetap bergaya parlente dan santai dalam menghadapi hal-hal yang terjadi disekitarnya.  Namun begitu, ia memiliki teman-teman yang perhatian terhadapnya. Jika chairil membutuhkan bantuan, teman-temannya dapat membantunya.

Didalam kehidupan asmaranya, chairil pernah menikah dengan salah seorang wanita yang bernama Hapsah. Dan Chairil memiliki anak dari Hapsah yang ia beri nama Evawani. Tetapi setelah Hapsah melahirkan Evawani, hubungan pernikahan mereka tidak bertahan. Chairil dan Hapsah pun bercerai.

Diakhir kehidupannya, Chairil masih sempatnya mengajak anak gadis yang masih bersekolah untuk mendampinginya menjelajah Nusantara. Ia merasa anak gadis yang bernama Roosye itu tepat dalam membawakan sajak-sajaknya dan Chairil telah menemukannya. Tetapi ia tidak bisa mengajak Roosye untuk menjelajahi Nusantara, karena ayah Roosye tidak mengizinkannya. Roosye pun keliahatan mau menangis dan tidak tahu bagaimana harus bersikap disaat Chairil mengajaknya untuk menjelajahi Nusantara disaat Chairil menjemput Roosye di sekolahnya.

Chairil sakit dan ia tidak ingin dibawa berobat kerumah sakit. Ia masih saja bersikeras bahwa ia tidak sakit. Padahal tubuhnya yang kurus itu semakin kurus. Orang-orangpun tahu bahwa ia sedang sakit. Dikeadaan seperti itu, ia pun masih bisa mengatakan kepada orang-orang bahwa ia masih sanggup untuk menjelajahi Nusantara untuk mencari Ida. Padahal ia sendiri pun sudah semacam mayat.

Berikut tulisan yang bercerita bagaimana ia dapat bertemu dengan Ida dan ia pun lenyap dari kehidupannya.

            Tapi Chairil malam itu sudah berada jauh di luar kamarnya.dia berjalan di atas pasir putih di sebuah bukit yang landai. Bulan bersinar lembut di atas kepalanya seolah rendah sekali. Dia dibawah bukit landai itu jadi nampak buih-buih putih dari ombak yang mendeburi pantai.

            Chairil berjalan menuruni bukit itu ke arah pantai. Keadaannya lebih parah dari ketika dia masih melawat maut didalam kamarnya. Tapi dia berjalan itu sambil tersenyum memandang ke dekat sekali di depannya, seolah dia tidak sendiri. Seolah Ida berada disana dan berjalan agak beriringan di sebelah depannya.

            Chairil yang berjalan tersenyum ini sekali-kali bahkan seolah bicara:

“Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing…”

            Ida yang masih belum bisa lepas dari topinya dan cadarnya, juga dari gaun sutra yang sekali ini berwarna kelabu, berjalan agak ke depan seolah tertawa berderai sambil sesudah itu berkata:

“Tapi kau terus mencariku, karena aku tidak pernah berhasil kau miliki sepenuhnya dan tidak sanggup berpaling?”

Chairil terus juga berjalan seolah mau menggapi Ida. Tapi Ida semacam hilang bobot terus juga melayang berjalan ke depan; dan Chairil jadi berseru lagi:

“Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring…”

Ida tertawa lagi berderai dan tetap melayang. Diapun berkata lagi:

“Kau sangat sekali menginginkan aku?”

Chairil pandangnya jauh sekali ketika menjawab:

“Ya!”

Dan sesudah itu dia menjawab:

“Aku pernah ingin benar padamu, di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali, kita berpeluk ciuman tidak jemu, rasa tak sanggup kau lepaskan…”

Ida tiba-tiba berhenti melayang. Dia tegak menghadap Chairil seolah dia siap untuk didapatkannya. Dia juga membuka topi dan cadarnya. Rambut-rambutnya yang ikal jadi jatuh tergerai. Dia tersenyum alangkah mempesonanya dan dia berkata:

“Rasanya bulan di ata itu seolah mau memberi tahu, saatnya kini tiba, kau dan hidupmu akan menyatu dalam hidupku…”

Chairil tiba-tiba jadi melompat ke depan menolak:

“Jangan! Jangan satukan hidupmu dengan hidupku, aku memangg tidak bisa lama bersama. Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!”

Bayangan Ida lenyap dari atas bukit, dan Chairil terjatuh lesu diatas pasir putih di pinggir pantai. Keringat-keringat bundar kembali menggagahi wajahnya, dia memejam menahan nyeri…

Maka tahu-tahu Chairil sudah berenang di tengah laut. Dia sambil berenang itu menggapai ke depan dan berteriak memanggil. Tapi suara itu tiada bunyi. 

Di pantai jauh sebelah sana ternyata yang nampak adalah Evawani kecil yang sedang berjalan sendirian, tertatih-tatih langkahnya. Evawani yang semacam anak alam tanpa busana.

Chairil semakin cepat berenang ke depan dan makin kuat berseru, walau suara itu tanpa bunyi. 

Dan di pantai jauh di depan itu tiba-tiba yang muncul adalah wajah-wajah alam dari mulai nenek dan kakeknya yang jalan bergandenngan, kemudian wajah Gadis Mirat yang tersenyum, lantas Dien Tamaela, Sri, Corrie, Marsiti, dan Roosye!

Cahiril terperangah membuka mata. Dia ternyata masih terlena di atas pasir putih di pinggir pantai . ujung-ujung lidah ombak menjilati kaki-kakinya dan matahari bundar tersembul di garis cakrawala laut.
 
Ombak yang datang terakhir, ternyata membawa serta sebuah topi lebar seperti yang dipakai Ida, lengkap dengan bunga mawarnya yang berwarna merah saga.

Chairil memungut topi itu dan diperhatikannya. Serupa benar, walau tidak sama. Chairil jadi memandang jauh ke tengah samudra seolah Ida berada di sana.

Chairil memang sudah berada di alam yang berbeda dengan kita. Namun, sajak-sajaknya bahkan semangatnya masih akan tetap bersama kita. Menyatu dengan semangat kita yang selalu berusaha untuk hidup. Yaa… Chairil Anwar akan selalu berada dihati dan dipikiran kita sebagai sang penyair yang bersemangat.

Sekian ulasan saya mengenai buku AKU oleh Sjuman Djaya. Apabila ada kekurangan dan kata-kata yang salah, mohon kritik dan sarannya.

Please leave your comment… ^^




Sumber Referensi:

-          Djaya, Sjuman. (2003). Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil
                 Anwar. Jakarta: Metafor Intermedia Indonesia
-          Anwar, Chairil. (2009). Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


5 comments:

ella novitaa said...

luar biasa cha :)

moiindie said...

wooowww jarang jarang liat tulisan kaya gini.. :)

Anonymous said...

jadi pengen cari dan punya buku tentang AKU..
mungkin saaya buka pembaca yg baik tuk NOVEL tp saya jadi kepengen belajar...:)

Khairunnisa said...

ella: alhamdulillah.. makasih ella :)

Khairunnisa said...

oki : hehe sesuatu yaa :D

Sekian.. ^^ Please leave your comment..

Bye Myspace Comments