CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Assalamu'alaikum

Welcome Myspace Comments

Music is my life ...

Hello! Myspace Comments

Thursday, June 14, 2012

Mereka Sungguh Berharga


Hari ini, saya belajar mata kuliah Kesehatan Mental dan dosennya memberikan saya beserta teman-teman saya cuplikan video yang sangat mengunggah hati. Suatu hal yang membuat saya benar-benar menangis. Awalnya saya biasa saja saat melihat video yang pertama dan kedua dan selanjutnya. Tetapi saya tetap terharu dan tersentuh, hanya saja tidak seperti saat video tentang orangtua diputar. Video itu menceritakan tentang sebuah surat dari orangtua untuk sang anak. Jika saya ceritakan kembali, saya takut apabila ada bagian yang tidak saya ceritakan karena keterbatasan saya dalam mengingat. Namun inti dari video itu benar-benar terekam didalam ingatan saya. Intinya, kedua orangtua menginginkan anaknya untuk sabar didalam menghadapinya ketika mereka tua dan rentan nanti. Mungkin perilaku mereka akan kembali menjadi seperti anak-anak lagi dan perilaku itulah yang mesti kita ingat bahwa sebelum kita dewasa, kita dulunya juga adalah anak-anak yang menginginkan kasih sayang dari kedua orangtuanya dan orangtua sabar dalam menghadapi kita.

       Jujur.. entah kenapa saya sepertinya sangat sensitif apabila saya teringat dengan kedua orangtua saya. Saya merasakan sesuatu yang tidak bisa saya hindarkan apabila saya memikirkan mereka. Saya takut kehilangan mereka. Dan saya juga yakin, bahwa anak-anak didunia ini juga takut kehilangan akan kedua orangtuanya. Saya berasal dari keluarga yang tidak terlalu intim. Dalam arti, keluarga tidak sepenuhnya menjadi tempat bagi saya dalam suka maupun duka. Namun, yang saya yakini, meskipun tidak sedekat anak-anak yang lain, orangtua adalah hal yang berharga buat saya. Meskipun terkadang saya masih saja membuat mereka kesal dan marah. Tetapi saya yakin mereka sangat menyayangi saya.
                 
      Saya sebagai anak terakhir (bungsu) dari kedua orangtua saya, saya berpikiran untuk menjaga dan merawat mereka jika mereka tua nanti. Saya ingin berada disamping mereka dan saya ingin sekali membahagiakan mereka. Mungkin untuk kedepannya, saya akan lebih berusaha daripada usaha saya selama ini didalam membahagiakan kedua orangtua saya. Mereka menginginkan yang terbaik untuk saya dan saya menginginkan yang lebih terbaik untuk mereka. Insyaallah saya akan bisa mencapainya. Amin… :)

Tuesday, April 24, 2012

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan


A.    PENYESUAIAN DIRI


Arti Penyesuaian Diri

                Penyesuaian diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, (2) criteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan (3) penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan diantara keduanya. Dengan demikian, apabila kita mau menghilangkan kekacauan atau salah pengertian mengenai apa itu penyesuaian diri, maka kita harus tahu konsep-konsep dasarnya.

Penyesuaian Diri sebagai Adaptasi

                Secara historis arti istilah “penyesuaian diri” sudah mengalami banyak perubahan. Karena kuatnya pengaruh pemikiran evolusi pada psikologi, maka penyesuaian diri disamakan dengan adaptasi, yaitu proses dimana organism yang agak sederhana mematuhi tuntutan-tuntutan lingkungan. Meskipun ada persamaan diantara kedua istilah tersebut, namun penyesuaian diri yang kompleks tidak cocok dengan konsep adaptasi biologis yang sederhana. Erich Fromm dalam bukunya, Escape from Freedom, (Fromm, 1941) mengemukakan konsep adaptasi yang menarik dan berguna yang mendekati ide penyesuaian diri. Fromm membedakan apa yang dinamakannya adaptasi statis dan adaptasi dinamik. Ia menggunakan adaptasi statis untuk menyebut perubahan kebiasaan yang relatif sederhana, misalnya orang berpindah dari satu kota kekota yang lain. Sedangkan adaptasi dinamik adalah sistuasi dimana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan, misalnya seorang anak laki-laki tunduk kepada perintah ayah yang keras dan mengancam. Fromm menafsirkan neurosis sebagai respons dinamik, adaptasi yang sama dengan penyesuaian diri.

Penyesuaian Diri dan Individualitas

                Dalam mendefinisikan penyesuaian diri, kita tidak boleh melupakan perbedaan –perbedaan individual. Anak yang sangat cerdas atau genius tidak sesuai dengan pola “normal”, baik dalam kapasitas maupun dalam tingkah lakunya, tetapi kita tidak dapat menyebutnya sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Sering kali norma-norma sosial dan budaya begitu kaku untuk dituruti dengan baik. Misalnya, sering terjadi dibeberapa Negara, warga Negara menolak undang-undang abortus atau sterilisasi yang dikeluarkan oleh Negara. Orang yang tidak dapat menerima undang-undang ini, tidak dapat tidak dapat dianggap sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.

Penyesuaian Diri sebagai Penguasaan

                Penyesuaian diri yang baik kelihatannya mengandung suatu tingkat penguasaan yang baik pula, yaitu kemampuan untuk merencanakan atau mengatur respons-respons pribadi sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau yang menguasai. Gagasan ini jelas berguna tetapi tidak memperhitungkan kelemahan-kelemahan individual. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan yang dituntut oleh penguasaan itu. pemimpin-pemimpin, orang-orang ang genius, dan orang-orang yang IQ-nya diatas rata-rata mungkin diharapkan memperlihatkan penguasaan yang luar biasa itu, tetapi meskipun demikian orang-orang ini pun sering mengalami kegagalan. Ini justru mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki tingkat penyesuaian dirinya sendiri, yang ditentukan oleh kapasitas-kapasitas bawaan, kecenderungan-kecenderungan yang diperoleh, dan pengalaman.


Definisi Penyesuaian Diri

                Dari segi pandangan psikologis, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik, ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang, kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951).

                Kita tidak dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri itu baik atau buruk. Kita hanya dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah cara individual atau khusus organismedalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau situasi-situasi dari luar. Untuk beberapa orang mungkin reaksi ini bisa efisien, sehat atau memuaskan. Sementara untuk orang lain reaksi ini melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan patologik.

                Jadi, kita dapat mendefinisikan dengan sederhana, bahwa penyesuaian diri itu adalah suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustasi-frustasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh dunia dimana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan respons cocok dengan konsep penyesuaian diri.


Konsep Penyesuaian Diri yang Baik

                Apa itu penyesuaian diri yang baik? Pasti itu yang ada dibenak kita setelah kita mendengar konsep penyesuaian diri yang baik. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotic adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap.

                Istilah “sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya. Kesehatan merupakan cirri yang sangat khas dalam penyesuaian diri yang baik. singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, ornag yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku yang simtomatik. Karena itu, ia relative bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis (psikosomatik). Ia menciptakan dunia hubungan antarpribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.

Penyesuaian Diri adalah Relatif

                Penyesuaian diri seperti yang telah dirumuskan diatas adalah relatif karena tidak ada orang yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi tuntutan-tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat perkembangan.

                Penyesuaian diri juga bersifat relatif karena berbeda-beda menurut norma-norma sosial dan budaya, serta individu itu sendiri pun berbeda-beda dalam bertingkah laku. Bahkan orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik kadang-kadang merasa bahwa ia menghadapi situasi atau masalah yang melampaui kemampuannya untuk menyesuaikan diri.

Penyesuaian Diri versus Moralitas

                Pemakaian baik dan buruk menempatkan seorang psikolog dalam ilmu kesehatan mental dalam posisi untuk membuat penilaian terhadap tingkah laku yang sebenarnya diharapkan tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Tetapi dapat dikemukakan di sini bahwa keputusan untuk menilai bukan sesuatu yang khas bagi bidang ilmu moral atau etika. Setiap orang dapat berbicara tentang kesehatan yang baik dan buruk, atau cuaca yang baik atau buruk dengan tidak memperhatikan pandangan moral atau etika. Kita tidak melihat tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri sebagai sesuatu yang secara moral buruk atau juga orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik sabagai teladan kebajikan yang sempurna. Kemampuan menyesuaikan diri tidak dapat disamakan dengan kebajikan, atau ketidakmampuan menyesuaikan diri disamakan dengan dosa. (Mowrer, 1960). Tetapi sering kali terjadi bahwa imoralitas merupakan akar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri dan sudah pasti penyesuaian diri yang sehat dalam pengertian yang sangat luas harus juga mencakup kesehatan moral.



B.    PERTUMBUHAN PERSONAL


Banyak kualitas penyesuaian diri yang baik mengandung implikasi-implikasi yang khas bagi pertumbuhan pribadi. Ide ini terkandung dalam kriteria perkembangan diri yang berarti pertumbuhan kepribadian yang terus-menerus kearah tujuan kematangan dan prestasi pribadi. Setiap langkah dalam proses pertumbuhan dari masa bayi sampai masa dewasa harus menjadi kemajuan tertentu kearah kematangan tang lebih besar dalam pikiran, emosi, sikap dan tingkah laku. Pelekatan (fiksasi) pada setiap tingkat perkembangan bertentangan dengan  penyesuaian diri yang adekuat, misalnya menggigit kuku, menghisap jempol, ngompol, ledakan amarah, atau membutuhkan sangat banyak kasih sayang dan perhatian. Perkembangan diri disebabkan oleh realisasi kematangan yang terjadi secara tahap demi tahap.

                Pertumbuhan kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat  terhadap pekerjaan dan kegemaran. Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi hal yang tidak menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara tertentu untuk mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita sehingga kita dapat memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan.

                Pertumbuhan pribadi tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang ditetapkan dengan baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk menilai penyesuaian diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat ide, kebenaran, keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir, bersikap, dan dalam berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam memandang kenyataan dan dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat nilai inilah yang akan menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam, bermusuhan, sangat kuat, atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya. Penyesuaian diri memerlukan penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress itu akan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi itu. kita seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan demikian mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak yakin mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara emosional sangat mengganggu.

                Dalam proses pematangan, perkembangan situasi sistem nilai akan meliputi juga tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang menjadi inti dari integrasi dan tingkah laku menyesuaikan diri. orang yang memiliki tujuan-tujuan yang ditetapkan dengan baik bertindak secara terarah dan bertujuan, meskipun terkadang terganggu oleh kehilangan arah, kebosanan, kekurangan minat dan dorongan. Dalam salah satu penelitian mengenai pengaruh-pengaruh dari tercapainya tujuan di kalangan para mahasiswa, telah ditemukan bahwa arah tujuan ada hubunganya dengan peningkatan keyakinan, perbaikan harga nilai, dan pembaruan usaha. Pengaruh umum dari tercapainya tujuan adalah tegangan direduksikan.

                Kriteria terakhir untuk menilai penyesuaian diri adalahh sikap terhadap kenyataan. Penyesuaian diri yang baik memerlukan sikap yang sehat dan realistic yang menyanggupi seseorang untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya bukan sebagaimana diharapkan atau diinginkan. Kriteria ini dipakai pada segi-segi kenyataan dalam waktu dan ruang. Ada orang yang hidup dalam dunia mimpi tentang peristiwa masa lampau yang sangat menghargai kenangan-kenangan pada masa kanak-kanak, dan baginya masa sekarang adalah suatu kenyataan yang jelek, dan masa yang akan datang merupakan sesuatu yang menakutkan.

                Adolph Meyer berpendapat bahwa kapasitas untuk menggunakan masa lampau dan bukan semata-mata menderita karenanya adalah perlu untuk penyesuaian diri bahwa penangan harus dipakai untuk menangani kenyataan sekarang dan kesempatan yang kreatif dapat direalisasikan dengan tinjauan yang sehat ke masa depan. Sikap yang sehat terhadap masa lampau, masa sekarang dan masa depan sangat penting untuuk penyesuaian diri yang sehat.





Sumber :

-          Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius

Wednesday, April 4, 2012

How To Be A Happy Teen

Apakah anda seorang remaja? Berusia 12 tahun sampai dengan 19 tahun? Sedang mencari jati diri yang sebenarnya? Dan ingin menjadi remaja yang bahagia? Jika iya, anda sesaat lagi akan menemukan jawabannya. 

Masa remaja adalah masa dimana individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti di tengah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui.

Pada masa ini, masa yang menentukan kemana sang remaja melangkah untuk masa depannya, ke hal yang baik kah atau ke hal yang buruk, sebelum ia dewasa untuk menjalani hal yang lebih besar lagi. Berikut kiat-kiat untuk menjadi remaja yang bahagia :

 Follow your heart

Ada yang bilang, ikuti kata hati jika ingin selamat. Kalau menurut saya, pernyataan ini ada benarnya. Karena hati selalu menjurus ke hal yang positif. Hati membawa kita ketempat yang lebih baik. Hati mencerminkan bagaimana diri kita. Untuk itu, mulailah untuk melihat kedalam diri dan lakukan segala dengan hati yang tulus. Buat hidup kamu lebih bermakna dimulai dari sekarang dengan mengikuti hati kamu.

Be your self

Salah satu pintu masuk untuk menuju kebahagiaan adalah ketika kamu menjadi diri sendiri. Yakin dengan segala potensi yang ada pada diri kamu. Merasalah bahwa kamu itu istimewa. Merasalah bahwa kamu itu unik. Tidak perlu kamu meniru diri orang lain. Yakini bahwa kamu bisa lebih dari orang lain. Didalam ini, percaya diri sangatlah penting. Karena percaya diri merupakan satu faktor untuk menjadi diri sendiri. Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya La Tahzan mengatakan, “anda adalah sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya. Tidak ada pernah sejarah yang mencatat orang seperti anda sebelumnya dan tidak aka nada orang seperti anda di dunia ini pada masa yang akan datang”. Untuk itu, jadilah diri kamu sendiri.

Tidak perlu putus asa

Katakan bahwa saya tidak akan gagal. Jikapun saya gagal, saya yakin kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda. Dan saya yakin, kegagalan itu bertujuan agar saya lebih giat lagi untuk berusaha dan saya akan menikmati  hasil dari usaha saya itu dan saya akan bahagia. So, kamu tidak perlu untuk berputus asa. 

Positive thinking

Siapa yang setuju bahwa dengan berpikir positif, seseorang akan bahagia? Jika kamu setuju, saya ucapkan selamat karena anda berusaha untuk bahagia menjalani hidup anda. Kenapa begitu, dengan berpikir positif, kita menghindari kesengsaraan yang ada. Jangan hiraukan seberapa sengsaranya kamu jika kamu gagal atau tertunda kkeberhasilan kamu. Berpikir positif lebih baik dari itu. karena dapat membuat kamu lebih maju dan akan sukses. Kamu tidak akan terbebani dengan setiap masalah yang kamu hadapi. Motivasikanlah dirimu bahwa kamu sanggup untuk berpikir positif dan kamu akan mencapai kebahagiaan hidupmu dengan berpikir positif.

Untuk menjalani kiat-kiat diatas, memang dibutuhkan usaha dan kesungguhan hati yang menyakini bahwa kamu bisa bahagia. Jika dari dalam diri kamu sendiri tidak menyakini kamu dapat bahagia, kiat-kiat diatas tidaklah akan mampu membawa kamu untuk ke kebahagiaan itu sendiri. Yang perlu diingat, jika kamu menabur hal yang positif, maka kamu akan menuai hal yang positif.

Sekian kiat-kiat dari saya agar kamu dapat menjadi remaja yang bahagia. Lebih kurangnya mohon maaf. Semoga dapat bermanfaat..

Yakini, bahwa kamu adalah REMAJA YANG BAHAGIA…




Sumber referensi :
-          Hall, C.S., Lindzey, G. (2003). Psikologi Kepribadian 1: teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius
-          Riana, Deny. (2007). 99 Ideas for Happy Teens. Bandung: ZIP BOOKS

Saturday, March 31, 2012

Chairil Anwar sang Penyair



“Bom atom pertama meledak di kota Hiroshima. Langit berselaput awan cendawan berbisa. Ketika memburai awan ini, bumi laksana ditimpa hujan salju yang ganas. Gedung-gedung beton runtuh. Aspal-aspal jalan terbakar menyala. Bumi retak-retak berdebu., disegala penjuru. Dan beribu tubuh manusia meleleh, tewas atau terluka. Seekor kuda paling binal, berbulu putih dan berambut tergerai, berlari dipusat kota, Jakarta! Tidak peduli pada yang ada, sekelilingnya, juga tidak pada manusia. Dia meringkik alangkah dahsyatnya, menapak dan menyepak alangkah merdeka. Dunia ini, seolah cuma menjadi miliknya! Dan sekaligus seolah dia berbicara:

kalau sampai waktuku
kumau tak seorang kan merayu
tidak juga kau
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

Gaung suara ini seolah membelah langit, membelah bumi.”

Adegan-adegan film yang tergambar dalam scenario ini tak sempat diwujudkan oleh sang penulis sekaligus sutradara, Sjuman Djaya. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair besar yang dikaguminya, Chairil Anwar, bagi para penikmat sinema tak pernah jadi nyata. Namun, tak dapat disangkal bahwa scenario ini merupakan salah satu karya terpenting Syuman Djaya yang menempatkannya di jajaran para seniman besar di Indonesia.


Bacaan diatas merupakan bacaan yang ada di cover belakang pada buku AKU yang ditulis oleh salah seorang sutradara besar Indonesia yaitu Sjuman Djaya. Dari bacaan tersebut, nampak sekali bahwa sang sutradara sangat ingin untuk mewujudkan perjalanan hidup Chairil Anwar menjadi sebuah film. Namun tak dapat diwujudkan karena berbagai kendala seperti untuk menghidupkan kembali keadaan Jakarta di masa tahun 1940-1950. Banyak yang berubah. Trem kota sudah tidak ada. Wajah pelabuhan sudah berubah. Begitu juga wajah seluruh kota pada umumnya.

Pada buku ini, sang penyair lah yang menjadi pokok pembicaraan. Untuk itu, sebelum saya bercerita lebih jauh, saya akan memberitahu terlebih dahulu biografi dari sang penyair besar pada zaman perang tersebut.



Chairil Anwar, lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan dan meninggal pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta. Berpindidikan MULO (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur “Gelanggang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949). Kumpulan sajaknya yaitu ada Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin + Asrul Sani, 1950). Sajak-sajaknya yang lain, sajak-sajak terjemahannya, serta sejumlah prosa yang dihimpun H.B Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Selaain menulis sajak, Chairil juga menerjemahkan. Diantara terjemahannya : Pulanglah Dia si Anak Hilang (karya Andre Gide, 1948) dan Kena Gempur (karya John Steinbeck, 1951).

Didalam buku ini (AKU), diceritakan kembali bagaimana kehidupan Chairil Anwar pada zaman perang, dimana namanya mulai dikenal orang banyak. Ia lahir sebagai salah satu penyair yang besar dan yang terkenal pada zamannya. Bahkan sampai dengan saat ini juga. Berkat semangat juang yang dituliskannya lewat sajak-sajaknya. Yang paling terkenal, salah satunya adalah AKU. Berikut bunyi sajaknya :


“Aku !
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi. “

 
Chairil, lelaki kurus berambut panjang, bermata cekung tapi tajam dan bermata merah basah. Ia hidup didalam dunia keluyurannya. Ia tidak suka menetap dirumah. Bahkan ibunya suka ia tinggalkan dirumah sendirian. Ia pergi kemanapun sesuka hatinya. Seperti tidak ada yang akan menahannya dan jika pun ada, mereka tidak akan sanggup. Chairil pernah mengambil atau mencuri barang-barang orang yang ada disekitarnya. Ia menjual barang itu untuk kebutuhannya. Salah satunya seperti ia pernah mengajak salah seorang wanita yang bernama Dien untuk bercengkrama disalah satu restoran. Pada saat itu ia mengambil jas salah seorang temannya yang bernama Basuki dan ia jual jas itu untuk bekal dalam mengajak wanita yang bernama Dien itu. Dien itu juga salah seorang teman dari Chairil dan Basuki. Pada saat basuki merasa jasnya hilang dan ia mencari tahu kemana jasnya, ada Sudjojono yang menduga bahwa Chairil si lelaki Jadel yang mengambilnya. Dan ternyata memang benar. Dengan bukti, Basuki menyusul Chairil dan Dien yang sedang bercengkrama disalah satu restoran itu, dan ia malah ikutan makan dan Chairil pun menambah order semaunya. Mereka pun mengobrol. Dan alih-alih Basuki menanyakan jasnya kepada Chairil dengan alasan bahwa ia memerlukan baju hangat untuk menghadiri acara pembukaan pameran. Dengan tenang dan sama sekali tanpa rasa berdosa, Chairil menjawab, “Sudahlah, tak usah kau risaukan jas buruk itu. Ke pameran toh tidak musti pakai jas, apalagi jas itu sudah berada dalam perutmu! Ya, perut kita semua!”. Baik Dien, apalagi Basuki Cuma bisa terbelalak sambil berkata, “Hah…?!”.

Orang disekitarnya sudah mengenalnya dengan kehidupannya yang suka keluyuran dan menurut saya sedikit selenge’an tapi tetap parlente yang terbukti dengan gaya nya. Orang sibuk berperang tetapi dia tetap bergaya parlente dan santai dalam menghadapi hal-hal yang terjadi disekitarnya.  Namun begitu, ia memiliki teman-teman yang perhatian terhadapnya. Jika chairil membutuhkan bantuan, teman-temannya dapat membantunya.

Didalam kehidupan asmaranya, chairil pernah menikah dengan salah seorang wanita yang bernama Hapsah. Dan Chairil memiliki anak dari Hapsah yang ia beri nama Evawani. Tetapi setelah Hapsah melahirkan Evawani, hubungan pernikahan mereka tidak bertahan. Chairil dan Hapsah pun bercerai.

Diakhir kehidupannya, Chairil masih sempatnya mengajak anak gadis yang masih bersekolah untuk mendampinginya menjelajah Nusantara. Ia merasa anak gadis yang bernama Roosye itu tepat dalam membawakan sajak-sajaknya dan Chairil telah menemukannya. Tetapi ia tidak bisa mengajak Roosye untuk menjelajahi Nusantara, karena ayah Roosye tidak mengizinkannya. Roosye pun keliahatan mau menangis dan tidak tahu bagaimana harus bersikap disaat Chairil mengajaknya untuk menjelajahi Nusantara disaat Chairil menjemput Roosye di sekolahnya.

Chairil sakit dan ia tidak ingin dibawa berobat kerumah sakit. Ia masih saja bersikeras bahwa ia tidak sakit. Padahal tubuhnya yang kurus itu semakin kurus. Orang-orangpun tahu bahwa ia sedang sakit. Dikeadaan seperti itu, ia pun masih bisa mengatakan kepada orang-orang bahwa ia masih sanggup untuk menjelajahi Nusantara untuk mencari Ida. Padahal ia sendiri pun sudah semacam mayat.

Berikut tulisan yang bercerita bagaimana ia dapat bertemu dengan Ida dan ia pun lenyap dari kehidupannya.

            Tapi Chairil malam itu sudah berada jauh di luar kamarnya.dia berjalan di atas pasir putih di sebuah bukit yang landai. Bulan bersinar lembut di atas kepalanya seolah rendah sekali. Dia dibawah bukit landai itu jadi nampak buih-buih putih dari ombak yang mendeburi pantai.

            Chairil berjalan menuruni bukit itu ke arah pantai. Keadaannya lebih parah dari ketika dia masih melawat maut didalam kamarnya. Tapi dia berjalan itu sambil tersenyum memandang ke dekat sekali di depannya, seolah dia tidak sendiri. Seolah Ida berada disana dan berjalan agak beriringan di sebelah depannya.

            Chairil yang berjalan tersenyum ini sekali-kali bahkan seolah bicara:

“Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing…”

            Ida yang masih belum bisa lepas dari topinya dan cadarnya, juga dari gaun sutra yang sekali ini berwarna kelabu, berjalan agak ke depan seolah tertawa berderai sambil sesudah itu berkata:

“Tapi kau terus mencariku, karena aku tidak pernah berhasil kau miliki sepenuhnya dan tidak sanggup berpaling?”

Chairil terus juga berjalan seolah mau menggapi Ida. Tapi Ida semacam hilang bobot terus juga melayang berjalan ke depan; dan Chairil jadi berseru lagi:

“Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring…”

Ida tertawa lagi berderai dan tetap melayang. Diapun berkata lagi:

“Kau sangat sekali menginginkan aku?”

Chairil pandangnya jauh sekali ketika menjawab:

“Ya!”

Dan sesudah itu dia menjawab:

“Aku pernah ingin benar padamu, di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali, kita berpeluk ciuman tidak jemu, rasa tak sanggup kau lepaskan…”

Ida tiba-tiba berhenti melayang. Dia tegak menghadap Chairil seolah dia siap untuk didapatkannya. Dia juga membuka topi dan cadarnya. Rambut-rambutnya yang ikal jadi jatuh tergerai. Dia tersenyum alangkah mempesonanya dan dia berkata:

“Rasanya bulan di ata itu seolah mau memberi tahu, saatnya kini tiba, kau dan hidupmu akan menyatu dalam hidupku…”

Chairil tiba-tiba jadi melompat ke depan menolak:

“Jangan! Jangan satukan hidupmu dengan hidupku, aku memangg tidak bisa lama bersama. Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!”

Bayangan Ida lenyap dari atas bukit, dan Chairil terjatuh lesu diatas pasir putih di pinggir pantai. Keringat-keringat bundar kembali menggagahi wajahnya, dia memejam menahan nyeri…

Maka tahu-tahu Chairil sudah berenang di tengah laut. Dia sambil berenang itu menggapai ke depan dan berteriak memanggil. Tapi suara itu tiada bunyi. 

Di pantai jauh sebelah sana ternyata yang nampak adalah Evawani kecil yang sedang berjalan sendirian, tertatih-tatih langkahnya. Evawani yang semacam anak alam tanpa busana.

Chairil semakin cepat berenang ke depan dan makin kuat berseru, walau suara itu tanpa bunyi. 

Dan di pantai jauh di depan itu tiba-tiba yang muncul adalah wajah-wajah alam dari mulai nenek dan kakeknya yang jalan bergandenngan, kemudian wajah Gadis Mirat yang tersenyum, lantas Dien Tamaela, Sri, Corrie, Marsiti, dan Roosye!

Cahiril terperangah membuka mata. Dia ternyata masih terlena di atas pasir putih di pinggir pantai . ujung-ujung lidah ombak menjilati kaki-kakinya dan matahari bundar tersembul di garis cakrawala laut.
 
Ombak yang datang terakhir, ternyata membawa serta sebuah topi lebar seperti yang dipakai Ida, lengkap dengan bunga mawarnya yang berwarna merah saga.

Chairil memungut topi itu dan diperhatikannya. Serupa benar, walau tidak sama. Chairil jadi memandang jauh ke tengah samudra seolah Ida berada di sana.

Chairil memang sudah berada di alam yang berbeda dengan kita. Namun, sajak-sajaknya bahkan semangatnya masih akan tetap bersama kita. Menyatu dengan semangat kita yang selalu berusaha untuk hidup. Yaa… Chairil Anwar akan selalu berada dihati dan dipikiran kita sebagai sang penyair yang bersemangat.

Sekian ulasan saya mengenai buku AKU oleh Sjuman Djaya. Apabila ada kekurangan dan kata-kata yang salah, mohon kritik dan sarannya.

Please leave your comment… ^^




Sumber Referensi:

-          Djaya, Sjuman. (2003). Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil
                 Anwar. Jakarta: Metafor Intermedia Indonesia
-          Anwar, Chairil. (2009). Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


Tuesday, March 27, 2012

Bakat, Minat dan Intelegensi


Sering kali bakat dan minat dianggap sama oleh orang pada umumnya. Namun, sesungguhnya kedua hal ini sangat berbeda. Karena apa? Yaitu karena BAKAT merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir. Bisa diturunkan oleh orangtua namun bisa juga tidak. Sedangkan MINAT merupakan keinginan seseorang untuk mempelajari sesuatu yang dianggapnya menarik dan ia sukai.

Persamaan diantara bakat dan minat ini yaitu perlu adanya pengembangan melalui belajar agar kemampuan dan keinginan yang ada dapat menjadi sesuatu yang nyata. Jadi tidak hanya sebatas kemampuan dan keinginan saja. Melainkan adanya kemajuan atau bentuk nyata dari apa yang dimiliki dan apa yang diminati. Jika hal tersebut diasah, maka akan menjadi sesuatu yang bermanfaat sekali untuk diri sendiri maupun lingkungan. Namun, apabila tidak diasah, maka hanya menjadi bakat dan minat yang terpendam. Tidak akan membuahkan hasil yang lebih dari hanya sekedar kemampuan dan keinginan saja. 

Yang perlu kita ketahui, bakat juga harus disertai dengan minat. Kenapa begitu? Karena adapun bakat yang luar biasa yang kita miliki namun minat kita sangat minim terhadap hal tersebut, maka untuk pengembangannya akan menjadi sulit. Sesungguhnya, seseorang itu menyukai hal-hal yang dianggapnya menarik untuknya dan ia akan sangat menikmati untuk lebih mewujudkan apa yang ia sukai itu. Contohnya, Cita sangat suka menulis. Ia mempunyai bakat dan minatnya besar kearah menulis tersebut. Ia berlatih dan mencari pengetahuan bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Terbukti dari beberapa cerpen dan puisi yang dibuatnya sangat menarik untuk dibaca. Namun Cita mempunyai adik yang sama sepertinya, yaitu suka menulis. Tetapi hanya sekedar suka. Minat adiknya Cita untuk lebih mengembangkan kemampuan menulisnya tidak terlalu besar. Dan adiknya Cita lebih suka untuk mengembangkan minat yang ia sukai seperti berolahraga.

Ini merupakan contoh, dimana bakat yang kita miliki apabila tidak besar minat kita kearah tersebut maka tidak perlu untuk dipaksakan. Karena sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan baik. Ini sangat berlaku untuk bakat dan minat. Contoh ini juga menunjukkan bahwa bakat dan minat seseorang itu berbeda dengan orang yang lainnya. Meskipun Cita dan Adiknya ini saudara kandung, namun mereka memiliki minat yang berbeda meskipun ada bakat yang mereka bawa sejak lahir. Bisa jadi bakat ini diturunkan oleh orangtuanya.

Sekarang kita beralih ke INTELEGENSI. Apakah hasil intelegensi dapat mengukur bakat? Saya pikir iya. Karena semakin tinggi intelegensi seseorang, semakin besar bakat yang dimilikinya. Karena pola berpikir seseorang yang memiliki intelegensi yang lebih tinggi akan lebih baik daripada orang yang tingkat intelegensinya rendah atau rata-rata. Ia dapat memanfaatkan kemampuan yang ia miliki untuk menjadi sesuatu yang lebih berarti. Sedangkan apakah hasil intelegensi dapat mengukur minat? Saya pikir tidak terlalu. Karena minat datang dari apa yang kita sukai dan apa yang kita sukai tidak harus mengikuti tingkat intelegensi kita. Bisa saja seseorang yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi tetapi minatnya terhadap sesuatu yang besar tidak terlalu besar. bahkan mungkin sebaliknya. Seseorang dengan tingkat intelegensi yang rata-rata atau rendah mempunyai minat yang besar terhadap sesuatu yang besar. Tergantung dari setiap individu untuk mengukur seberapa besar atau kecil minat terhadap sesuatu. Untuk mengukur bakat dan minat, kita dapat mengikuti tes bakat minat seperti RMIB. Dan untuk mengukur seberapa tinggi atau rendahnya intelegensi, kita dapat mengikuti tes intelegensi seperti IST.

Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat yaaaa, terimakasih..



Sumber Referensi :
-          Lucy. (2009). Mendidik Sesuai Dengan Minat & Bakat Anak (painting your children’s future).
            Jakarta: Tangga Pustaka
-          Mulyatiningsih Rudy, Pancariatno Sunu, Yohanes Kuswadi, Rohayati Menik. (2004).
            Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar, dan Karier. Jakarta: Grasindo
-          Catatan Psikologi Pendidikan dosen Ibu Maria

Sekian.. ^^ Please leave your comment..

Bye Myspace Comments