CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Assalamu'alaikum

Welcome Myspace Comments

Music is my life ...

Hello! Myspace Comments

Friday, March 15, 2013

PSIKOTERAPI


Pengertian Psikoterapi
      Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau sedrhananya: jiwa dan “therapy” dari Bahasa Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadapa aspek kejiwaan seseorang.
Menurut Corsini (1989) psikoterapi sulit dirumuskan secara tepat. Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak Karen ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif ((kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan), dan fungsi perilaku (ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Menurut Wolberg (1977), “Psychotherapy is a treatment by psychological means, of problems of an emotional nature in which a trained person deliberately established a professional relationship with the patient with the object of (1) removing, modifying or retarding existing symtomps, (2) mediating disturbed patterns of behavior, and (3) promoting positive personality growth and development”. Psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli menciptakan hubungan profesional dengan pasiennya yang bertujuan (1) menghilangkan, mengubah atau menemukan gejala yang ada (2) memperantai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak (3) meningkatkan pola pertumbuhan serta perkembangan kepribadian dan yang positif.

Tujuan Psikoterapi
Tujuan Psikoterapi menurut Corey (1991) adalah sebagai berikut:
a)    Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Psikoanalisis
Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
b)   Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Terpusat pada Pribadi
Memberikan suasana aman dan bebas agar klien dapat mengesplorasi diri dengan nyaman, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat. Untuk memungkinkannya berkembang kearah keterbukaan, memperkuat kepercayaan diri, kemauan melakukan sesuatu, dan meningkatkan spontanitas dan kesegaran dalam hidupnya.
c)    Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Eksistensialistik
Membantu seseorang mengetahui bahwa ia memiliki kebebasan dan menyadari akan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki. untuk merangsang mereka mengenali bahwa mereka bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang mereka pikir terjadi pada mereka sebelumnya dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat kebebasan.
d)   Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Behavioristik
Menghilangkan perilaku yang maladaptive dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif. Memusatkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan mencari apa yang dapat dilakukan terhadap perilaku yang menjadi masalah. Klien berperan aktif dalam menyusun tujuan terapi dan menilai bagaimana tujuan-tujuan ini bisa tercapai.
e)    Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Kognitif-Behavioristik dan Rasional-Emotif
Menghilangan cara memandang dalam kehidupan klien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara lebih rasional dan toleran. Untuk membantu klien mempergunakan metode yang lebih ilmiah dalam memecahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
f)    Tujuan Psikoterapi dengan Metode dan Teknik Gestalt
Membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. Untuk merangsangnya menerima tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
g)   Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Realitas
Membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakan-tindakannya berhasil.

Unsur-Unsur Psikoterapi
1.      Klien adalah orang yang akan disembuhkan atau diobati.
2.      Psikoterapis adalah orang yang melakukan psikoterapi.
3.  Proses Psikoterapi adalah pelaksanaan terapi dimana terjadinya interaksi antara Psikoterapis dengan Klien.

Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Dalam perkembangan mutakhir, semakin sukar ditemukannya pokok-pokok perbedaan konseling dan psikoterapi. Namun dapat dicari dengan menyorotinya dari beberapa segi relevan sebai berikut:
1.  Konseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda lingkup pengertian antara keduanya. Istilah “psikoterapi” mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada sesuatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada segi lain, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah-satu bentuk psikoterapi.
2. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan.
3.   Konseling dijalankan atas dasar (atau dijiwai oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi. Perlu ditambahkan bahwa konseling pun memanfaatkan keterangan dari teori-teori kepribadian, dan teori-teori psikologi lainnya, bahkan banyka ilmu lain yng tercakup dalam keilmuan  perilaku (behavioral science), namun semua itu bukan merupakan dasar kerjanya tetapi merupakan sumber keterangan bantu bagi memahami individu.
4.    Konseling dan psikoterapi berbeda tujuan dan cara mencapai tujuan masing-masing. Tujuan psikoterapi adalah mengatasi kelemahan-kelemahan tertentu melalui beberapa cara praktis, mencakup “pembedahan-psikis” (psycho-surgery) dan pembedahan otak. Konselor, pada lain pihak, berurusan dengan identifikasi dan pengembangan kekuatan-kekuatan positif pada individu. Ini dilakukan dengan membantu klien untuk menjadi seorang yang berfungsi secara sempurna, fully functioning person.

Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illness
a)    Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
b)   Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuele pasca-traumatic, kededihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respons emosional penuh stress yang dilimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
c)    Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
d)   Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

Bentuk Utama Terapi
Bentuk utama Terapi menurut Wolberg yaitu:
a)    Supportive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk memperkuat benteng pertahanan diri, memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi kepribadian serta mengembalikan pada penyesuaian diri yang seimbang.
b)   Reeducative Therapy
Terapi yang bertujuan untuk mewujudkan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup dan menghidupkan potensi kreatif.
c)    Reconstructive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik-konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan mengembangkan potensi penyesuaian yang baru.


Referensi:
Gunarsa, Singgih. D. (2004). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
IKAPI. (1997). Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Simanjuntak, Julianto. (2008). Konseling gangguan jiwa dan okultisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Marshonah. (2009). Proses terapi islam terhadap penderita gangguan kejiwaan. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Mappiare, Andi. (1992). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sholikhah, Hadiyatu. (2009). Terapi stress melalui psikoterapi islam menurut pemikiran dadang hawari. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Thursday, June 14, 2012

Mereka Sungguh Berharga


Hari ini, saya belajar mata kuliah Kesehatan Mental dan dosennya memberikan saya beserta teman-teman saya cuplikan video yang sangat mengunggah hati. Suatu hal yang membuat saya benar-benar menangis. Awalnya saya biasa saja saat melihat video yang pertama dan kedua dan selanjutnya. Tetapi saya tetap terharu dan tersentuh, hanya saja tidak seperti saat video tentang orangtua diputar. Video itu menceritakan tentang sebuah surat dari orangtua untuk sang anak. Jika saya ceritakan kembali, saya takut apabila ada bagian yang tidak saya ceritakan karena keterbatasan saya dalam mengingat. Namun inti dari video itu benar-benar terekam didalam ingatan saya. Intinya, kedua orangtua menginginkan anaknya untuk sabar didalam menghadapinya ketika mereka tua dan rentan nanti. Mungkin perilaku mereka akan kembali menjadi seperti anak-anak lagi dan perilaku itulah yang mesti kita ingat bahwa sebelum kita dewasa, kita dulunya juga adalah anak-anak yang menginginkan kasih sayang dari kedua orangtuanya dan orangtua sabar dalam menghadapi kita.

       Jujur.. entah kenapa saya sepertinya sangat sensitif apabila saya teringat dengan kedua orangtua saya. Saya merasakan sesuatu yang tidak bisa saya hindarkan apabila saya memikirkan mereka. Saya takut kehilangan mereka. Dan saya juga yakin, bahwa anak-anak didunia ini juga takut kehilangan akan kedua orangtuanya. Saya berasal dari keluarga yang tidak terlalu intim. Dalam arti, keluarga tidak sepenuhnya menjadi tempat bagi saya dalam suka maupun duka. Namun, yang saya yakini, meskipun tidak sedekat anak-anak yang lain, orangtua adalah hal yang berharga buat saya. Meskipun terkadang saya masih saja membuat mereka kesal dan marah. Tetapi saya yakin mereka sangat menyayangi saya.
                 
      Saya sebagai anak terakhir (bungsu) dari kedua orangtua saya, saya berpikiran untuk menjaga dan merawat mereka jika mereka tua nanti. Saya ingin berada disamping mereka dan saya ingin sekali membahagiakan mereka. Mungkin untuk kedepannya, saya akan lebih berusaha daripada usaha saya selama ini didalam membahagiakan kedua orangtua saya. Mereka menginginkan yang terbaik untuk saya dan saya menginginkan yang lebih terbaik untuk mereka. Insyaallah saya akan bisa mencapainya. Amin… :)

Tuesday, April 24, 2012

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan


A.    PENYESUAIAN DIRI


Arti Penyesuaian Diri

                Penyesuaian diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, (2) criteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan (3) penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan diantara keduanya. Dengan demikian, apabila kita mau menghilangkan kekacauan atau salah pengertian mengenai apa itu penyesuaian diri, maka kita harus tahu konsep-konsep dasarnya.

Penyesuaian Diri sebagai Adaptasi

                Secara historis arti istilah “penyesuaian diri” sudah mengalami banyak perubahan. Karena kuatnya pengaruh pemikiran evolusi pada psikologi, maka penyesuaian diri disamakan dengan adaptasi, yaitu proses dimana organism yang agak sederhana mematuhi tuntutan-tuntutan lingkungan. Meskipun ada persamaan diantara kedua istilah tersebut, namun penyesuaian diri yang kompleks tidak cocok dengan konsep adaptasi biologis yang sederhana. Erich Fromm dalam bukunya, Escape from Freedom, (Fromm, 1941) mengemukakan konsep adaptasi yang menarik dan berguna yang mendekati ide penyesuaian diri. Fromm membedakan apa yang dinamakannya adaptasi statis dan adaptasi dinamik. Ia menggunakan adaptasi statis untuk menyebut perubahan kebiasaan yang relatif sederhana, misalnya orang berpindah dari satu kota kekota yang lain. Sedangkan adaptasi dinamik adalah sistuasi dimana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan, misalnya seorang anak laki-laki tunduk kepada perintah ayah yang keras dan mengancam. Fromm menafsirkan neurosis sebagai respons dinamik, adaptasi yang sama dengan penyesuaian diri.

Penyesuaian Diri dan Individualitas

                Dalam mendefinisikan penyesuaian diri, kita tidak boleh melupakan perbedaan –perbedaan individual. Anak yang sangat cerdas atau genius tidak sesuai dengan pola “normal”, baik dalam kapasitas maupun dalam tingkah lakunya, tetapi kita tidak dapat menyebutnya sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Sering kali norma-norma sosial dan budaya begitu kaku untuk dituruti dengan baik. Misalnya, sering terjadi dibeberapa Negara, warga Negara menolak undang-undang abortus atau sterilisasi yang dikeluarkan oleh Negara. Orang yang tidak dapat menerima undang-undang ini, tidak dapat tidak dapat dianggap sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.

Penyesuaian Diri sebagai Penguasaan

                Penyesuaian diri yang baik kelihatannya mengandung suatu tingkat penguasaan yang baik pula, yaitu kemampuan untuk merencanakan atau mengatur respons-respons pribadi sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau yang menguasai. Gagasan ini jelas berguna tetapi tidak memperhitungkan kelemahan-kelemahan individual. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan yang dituntut oleh penguasaan itu. pemimpin-pemimpin, orang-orang ang genius, dan orang-orang yang IQ-nya diatas rata-rata mungkin diharapkan memperlihatkan penguasaan yang luar biasa itu, tetapi meskipun demikian orang-orang ini pun sering mengalami kegagalan. Ini justru mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki tingkat penyesuaian dirinya sendiri, yang ditentukan oleh kapasitas-kapasitas bawaan, kecenderungan-kecenderungan yang diperoleh, dan pengalaman.


Definisi Penyesuaian Diri

                Dari segi pandangan psikologis, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik, ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang, kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951).

                Kita tidak dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri itu baik atau buruk. Kita hanya dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah cara individual atau khusus organismedalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau situasi-situasi dari luar. Untuk beberapa orang mungkin reaksi ini bisa efisien, sehat atau memuaskan. Sementara untuk orang lain reaksi ini melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan patologik.

                Jadi, kita dapat mendefinisikan dengan sederhana, bahwa penyesuaian diri itu adalah suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustasi-frustasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh dunia dimana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan respons cocok dengan konsep penyesuaian diri.


Konsep Penyesuaian Diri yang Baik

                Apa itu penyesuaian diri yang baik? Pasti itu yang ada dibenak kita setelah kita mendengar konsep penyesuaian diri yang baik. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotic adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap.

                Istilah “sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya. Kesehatan merupakan cirri yang sangat khas dalam penyesuaian diri yang baik. singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, ornag yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku yang simtomatik. Karena itu, ia relative bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis (psikosomatik). Ia menciptakan dunia hubungan antarpribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.

Penyesuaian Diri adalah Relatif

                Penyesuaian diri seperti yang telah dirumuskan diatas adalah relatif karena tidak ada orang yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi tuntutan-tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat perkembangan.

                Penyesuaian diri juga bersifat relatif karena berbeda-beda menurut norma-norma sosial dan budaya, serta individu itu sendiri pun berbeda-beda dalam bertingkah laku. Bahkan orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik kadang-kadang merasa bahwa ia menghadapi situasi atau masalah yang melampaui kemampuannya untuk menyesuaikan diri.

Penyesuaian Diri versus Moralitas

                Pemakaian baik dan buruk menempatkan seorang psikolog dalam ilmu kesehatan mental dalam posisi untuk membuat penilaian terhadap tingkah laku yang sebenarnya diharapkan tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Tetapi dapat dikemukakan di sini bahwa keputusan untuk menilai bukan sesuatu yang khas bagi bidang ilmu moral atau etika. Setiap orang dapat berbicara tentang kesehatan yang baik dan buruk, atau cuaca yang baik atau buruk dengan tidak memperhatikan pandangan moral atau etika. Kita tidak melihat tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri sebagai sesuatu yang secara moral buruk atau juga orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik sabagai teladan kebajikan yang sempurna. Kemampuan menyesuaikan diri tidak dapat disamakan dengan kebajikan, atau ketidakmampuan menyesuaikan diri disamakan dengan dosa. (Mowrer, 1960). Tetapi sering kali terjadi bahwa imoralitas merupakan akar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri dan sudah pasti penyesuaian diri yang sehat dalam pengertian yang sangat luas harus juga mencakup kesehatan moral.



B.    PERTUMBUHAN PERSONAL


Banyak kualitas penyesuaian diri yang baik mengandung implikasi-implikasi yang khas bagi pertumbuhan pribadi. Ide ini terkandung dalam kriteria perkembangan diri yang berarti pertumbuhan kepribadian yang terus-menerus kearah tujuan kematangan dan prestasi pribadi. Setiap langkah dalam proses pertumbuhan dari masa bayi sampai masa dewasa harus menjadi kemajuan tertentu kearah kematangan tang lebih besar dalam pikiran, emosi, sikap dan tingkah laku. Pelekatan (fiksasi) pada setiap tingkat perkembangan bertentangan dengan  penyesuaian diri yang adekuat, misalnya menggigit kuku, menghisap jempol, ngompol, ledakan amarah, atau membutuhkan sangat banyak kasih sayang dan perhatian. Perkembangan diri disebabkan oleh realisasi kematangan yang terjadi secara tahap demi tahap.

                Pertumbuhan kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat  terhadap pekerjaan dan kegemaran. Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi hal yang tidak menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara tertentu untuk mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita sehingga kita dapat memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan.

                Pertumbuhan pribadi tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang ditetapkan dengan baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk menilai penyesuaian diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat ide, kebenaran, keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir, bersikap, dan dalam berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam memandang kenyataan dan dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat nilai inilah yang akan menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam, bermusuhan, sangat kuat, atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya. Penyesuaian diri memerlukan penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress itu akan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi itu. kita seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan demikian mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak yakin mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara emosional sangat mengganggu.

                Dalam proses pematangan, perkembangan situasi sistem nilai akan meliputi juga tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang menjadi inti dari integrasi dan tingkah laku menyesuaikan diri. orang yang memiliki tujuan-tujuan yang ditetapkan dengan baik bertindak secara terarah dan bertujuan, meskipun terkadang terganggu oleh kehilangan arah, kebosanan, kekurangan minat dan dorongan. Dalam salah satu penelitian mengenai pengaruh-pengaruh dari tercapainya tujuan di kalangan para mahasiswa, telah ditemukan bahwa arah tujuan ada hubunganya dengan peningkatan keyakinan, perbaikan harga nilai, dan pembaruan usaha. Pengaruh umum dari tercapainya tujuan adalah tegangan direduksikan.

                Kriteria terakhir untuk menilai penyesuaian diri adalahh sikap terhadap kenyataan. Penyesuaian diri yang baik memerlukan sikap yang sehat dan realistic yang menyanggupi seseorang untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya bukan sebagaimana diharapkan atau diinginkan. Kriteria ini dipakai pada segi-segi kenyataan dalam waktu dan ruang. Ada orang yang hidup dalam dunia mimpi tentang peristiwa masa lampau yang sangat menghargai kenangan-kenangan pada masa kanak-kanak, dan baginya masa sekarang adalah suatu kenyataan yang jelek, dan masa yang akan datang merupakan sesuatu yang menakutkan.

                Adolph Meyer berpendapat bahwa kapasitas untuk menggunakan masa lampau dan bukan semata-mata menderita karenanya adalah perlu untuk penyesuaian diri bahwa penangan harus dipakai untuk menangani kenyataan sekarang dan kesempatan yang kreatif dapat direalisasikan dengan tinjauan yang sehat ke masa depan. Sikap yang sehat terhadap masa lampau, masa sekarang dan masa depan sangat penting untuuk penyesuaian diri yang sehat.





Sumber :

-          Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius

Wednesday, April 4, 2012

How To Be A Happy Teen

Apakah anda seorang remaja? Berusia 12 tahun sampai dengan 19 tahun? Sedang mencari jati diri yang sebenarnya? Dan ingin menjadi remaja yang bahagia? Jika iya, anda sesaat lagi akan menemukan jawabannya. 

Masa remaja adalah masa dimana individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti di tengah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui.

Pada masa ini, masa yang menentukan kemana sang remaja melangkah untuk masa depannya, ke hal yang baik kah atau ke hal yang buruk, sebelum ia dewasa untuk menjalani hal yang lebih besar lagi. Berikut kiat-kiat untuk menjadi remaja yang bahagia :

●  Follow your heart

Ada yang bilang, ikuti kata hati jika ingin selamat. Kalau menurut saya, pernyataan ini ada benarnya. Karena hati selalu menjurus ke hal yang positif. Hati membawa kita ketempat yang lebih baik. Hati mencerminkan bagaimana diri kita. Untuk itu, mulailah untuk melihat kedalam diri dan lakukan segala dengan hati yang tulus. Buat hidup kamu lebih bermakna dimulai dari sekarang dengan mengikuti hati kamu.

● Be your self

Salah satu pintu masuk untuk menuju kebahagiaan adalah ketika kamu menjadi diri sendiri. Yakin dengan segala potensi yang ada pada diri kamu. Merasalah bahwa kamu itu istimewa. Merasalah bahwa kamu itu unik. Tidak perlu kamu meniru diri orang lain. Yakini bahwa kamu bisa lebih dari orang lain. Didalam ini, percaya diri sangatlah penting. Karena percaya diri merupakan satu faktor untuk menjadi diri sendiri. Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya La Tahzan mengatakan, “anda adalah sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya. Tidak ada pernah sejarah yang mencatat orang seperti anda sebelumnya dan tidak aka nada orang seperti anda di dunia ini pada masa yang akan datang”. Untuk itu, jadilah diri kamu sendiri.

● Tidak perlu putus asa

Katakan bahwa saya tidak akan gagal. Jikapun saya gagal, saya yakin kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda. Dan saya yakin, kegagalan itu bertujuan agar saya lebih giat lagi untuk berusaha dan saya akan menikmati  hasil dari usaha saya itu dan saya akan bahagia. So, kamu tidak perlu untuk berputus asa. 

● Positive thinking

Siapa yang setuju bahwa dengan berpikir positif, seseorang akan bahagia? Jika kamu setuju, saya ucapkan selamat karena anda berusaha untuk bahagia menjalani hidup anda. Kenapa begitu, dengan berpikir positif, kita menghindari kesengsaraan yang ada. Jangan hiraukan seberapa sengsaranya kamu jika kamu gagal atau tertunda kkeberhasilan kamu. Berpikir positif lebih baik dari itu. karena dapat membuat kamu lebih maju dan akan sukses. Kamu tidak akan terbebani dengan setiap masalah yang kamu hadapi. Motivasikanlah dirimu bahwa kamu sanggup untuk berpikir positif dan kamu akan mencapai kebahagiaan hidupmu dengan berpikir positif.

Untuk menjalani kiat-kiat diatas, memang dibutuhkan usaha dan kesungguhan hati yang menyakini bahwa kamu bisa bahagia. Jika dari dalam diri kamu sendiri tidak menyakini kamu dapat bahagia, kiat-kiat diatas tidaklah akan mampu membawa kamu untuk ke kebahagiaan itu sendiri. Yang perlu diingat, jika kamu menabur hal yang positif, maka kamu akan menuai hal yang positif.

Sekian kiat-kiat dari saya agar kamu dapat menjadi remaja yang bahagia. Lebih kurangnya mohon maaf. Semoga dapat bermanfaat..

Yakini, bahwa kamu adalah REMAJA YANG BAHAGIA…




Sumber referensi :
-          Hall, C.S., Lindzey, G. (2003). Psikologi Kepribadian 1: teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius
-          Riana, Deny. (2007). 99 Ideas for Happy Teens. Bandung: ZIP BOOKS

Sekian.. ^^ Please leave your comment..

Bye Myspace Comments